Pengembangan Kalimat



A.     Pendahuluan
          Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dank keras lembut, disela jeda dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.)[1]
    Dalam makalah ini akan dibahas tentang pengembangan kalimat yang
meliputi kalimat efektif, kehematan, pelepasan, kesejajaran. Kemudian membahas tentang panjang-pendek kalimat, pola kalimat dasar, jenis kalimat, serta hubungan logis antarkalimat.

B.     Pengembangan Kalimat
          Pada hakikatnya kalimat hanya terdiri dari subjek dan predikat. Kalimat menjadi panjang karena penambahan keterangan terhadap subjek atau predikat. Misalnya:
                     Wanita itu terjatuh.
Kalimat di atas disebut juga kalimat inti. Kalimat seperti ini dalam sebuah berita tentu tidak layak. Oleh karena itu reporter perlu menambahi dengan identitas si wanita. Maka kalimat tersebut akan menjadi:
                     Wanita yang berkulit kuuning langsat itu terjatuh.
Namun redaktur yang menerima tulisan seperti ini pasi juga kurang puas. Si reporter lalu menambahi keterangan predikatnya. Jadilah:
Wanita yang berkulit kuning langsat itu terjatuh dari lantai dua sebuah hotel.[2]
          Kesimpulannya, sebuah kalimat dapat dikembangkan dengan memberi keterangan terhadap predikat atau subjek. Tentu saja penambahan keterangan ini dilakukan untuk lebih memperjelas maksud kalimat. Dengan begitu pembaca akan lebih jelas menangkap informasi yang disampaikan.[3]


a.   Kalimat Efektif
  Kalimat yang digunakan dalam penulisan di media massa hendaknya merupakan kalimat efektif. Ini demi kenyamanan dan kejelasan informasi yang diperoleh pembaca. Tetapi apa kalimat efektif itu? Biasanya bila kita membaca frasa kalimat efektif, yang terbayang adalah sebuah kalimat yang ringkas. Namun itu hanyalah salah satu unsur kalimat efektif.[4]
     Menurut Gorys Keraf (1980), semua itu haruslah dapat menggambarkan sama tepatnya antara gagasan penulis dengan yang diserap pembaca. Jadi, kalau kita menerapkan semua unsur kalimat efektif, kalimat malah tidak jelas, kalimat itu tidak dapat disebut sebagai kalimat efektif.[5]

b.  Kehematan
     Perihal kehematan kata dapat dilihat pada bagian ekonomi ekonomi kata atau ekonomi bahasa. Selain menerapkan prinsip ekonomi kata, kalimat hemat harusterbebas dari kata-kata sampah yang menyebabkan penyampaian informasi menjadi berbelit-belit. Misalnya:
1)  Mereka berteriak perihal tentang rakyatnya yang menderita.
2)  Semua juga tahu bahwa agar tidak terjadi kerusuhan supaya perlu dilakukan pendekatan.[6]
     Kata sampah yang ditemukan pada kalimat 1) adalah perihal dan tentang. Kata perihal dan tentang bersinonim sehingga dapat dipakai salah satu saja. Adapun –nya pada rakyatnya sangat tidak diperlukan kehadirannya di sana. Kata bahwa dan agar  dalam kalimat 2) memiliki fungsi yang sama. Namun dalam kalimat tersebut kata agar lebih tepat sehingga bahwa dapat dihilangkan. Kata perlu pun sangat tidak diperlukan kehadirannya di sana.[7]



c.   Pelepasan
     Penghilangan salah satu unsur yang sama atau hampir sama dalam sebuah kalimat sebab unsur tersebut hanya membuat kalimat menjadi lebih panjang.
Misalnya:
Dalam lawatannya Presiden akan mengunjungi Negara Singapura, Negara Rusia, dan Negara Malaysia.
Sekarang ini mari kita lesapkan unsure-unsur yang sama sehingga menjadi:
Dalam lawatannya Presiden akan mengunjungi Negara Singapura, Rusia, dan Malaysia.[8]

d.  Kesejajaran
     Semua unsur yang membentuk kalimat haruslah sejajar demi kelancaran dalam membaca dan keselarasan kalimat. Jika satu bentuk dinyatakan dengan frasa, bentuk lain yang sejajar pun harus dinyatakan dengan frasa. Misalnya, bila kata kerja yang digunakan berbentuk aktif (me-), bentuk kata kerja lain yang setara juga harus aktif. Ada beberapa kesejajaran dalam kalimat:[9]

1)  Kesejajaran Bentuk
     Kesejajaran dalam bentuk kata. Pemberian imbuhan harus sejajar agar laju kalimat menjadi lancer. Misalnya:
                     Perusahaan pers kita mengalami perkembangan dan bertumbuh
dengan pesat di awal era reformasi.
     Pada kalimat di atas ketidaksejajaran terjadi pada kata perkembangan dan bertumbuh. Semestinya, agar sejajar, semua menggunakan imbuhan per-an. Dengan begitu, kalimat tersebut menjadi:
                     Perusahaan pers kita mengalami perkembangan dan pertumbuhan
dengan pesat di awal era reformasi.[10]
2)  Kesejajaran Makna
     Kalimat yang baik adalah kalimat yang antar unsure-unsurnya memiliki keterkaitan makna yang saling mendukung.
Misalnya:
a)  Satu orang berdatangan ke tempat itu.
b)  Pria paro baya itu membunuhi istrinya yang sedang tidur.
     Tidak ada kesesejaran makna dalam kalimat a). kalimat tersebut akan lebih baik bila diubah menjadi Orang berdatangan ke tempat itu. Kenapa bukan orang-orang? Karena kata berdatangan sudah menunjukkan menunjukkan kejamakan. Bentuk ulang penjamakan atau kata yang menunjukkan kejamakan, seperti para dan banyak, menjadi mubasir. Tetapi kata yang menunjukkan ketunggalan diharamkan dari kalimat seperti itu.[11]
     Adapun kalimat b) terjadi ketidaksejajaran antara predikat dan objek. Kata memenuhi menghendaki objeknya lebih dari satu. Mungkin bila diubah menjadi Pria paro baya itu membunuhi seluruh anggota keluarga istrinya, kata kerja membunuhi menjadi tidak mubasir. Namun yang dimaksud kalimat b) adalah Pria paro baya itu membunuh istrinya yang sedang tidur.[12]
      
C.     Panjang-Pendek Kalimat
          Kalimat pendek tidak selalu mencerminkan kalimat yang baik atau efektif. Sebaliknya kalimat yang panjang tidak selalu rumit dan tidak efektif. Di dalam komposisi keduanya bisa bekerja sama untuk menghindari kejemuan atau suasana monoton pada waktu membaca suatu tulisan. Akan tetapi menjadi tidak menyenangkan apabila membaca karangan yang terdiri dari kalimat yang seluruhnya pendek-pendek atau sebaliknya seluruh kalimatnya panjang-panjang.[13]

D.     Pola Kalimat Dasar
         Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia :
a.  KB  +   KK                                     :     Mahasiswa berdiskusi.
b. KB  +   KS                                     :     Dosen itu ramah.
c. KB  +   KBil.                                   :     Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
d. KB  +   (KO +  KB)                         :     Tinggalnya di Palembang.
e.  KB1 +   KK +   KB2                        :     Mereka menonton film.
f.   KB1 +   KK  +            KB2               +    KB3       :           Paman mencarikan saya pekerjaan.
g.  KB1 +   KB2                                    : Rustam peneliti mencarikan saya
     pekerjaan.
          Ketujuh pola kalimat dasar tersebut dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehigga kalimat menjadi luas dan kompleks.[14]
Catatan :
S          : Subjek
P          : Predikat
O         : Objek
K          : Keterangan
Pel.      :Pelengkap
KB       : Kata benda (nomina)
KK       : Kata kerja (verba)
KS       : Kata sifat (adjektiva)
KBil.     : Kata bilangan (numeralia)
FD       : Frasa depan (frasa preposisi)
KD       : Kata depan (preposisi)[15]





E.     Jenis Kalimat
          Kalimat menjelaskan pikiran dan perasaan pembicara atau penulis. Jenis pikiran dan perasaan berbeda-beda; alasan berkomunikasi juga berbeda-beda. Tidak mengherankan jenis kalimat berbeda-beda.[16]

a.   Kalimat Menurut Maksudnya
            Menurut fungsinya, jenis kalimat dapat diperinci menjadi pernyataan, pertanyaan, dan permintaan, dan seruan. Dalam bahasa lisan, intonasi yang khas menjelaskan kapan kita berhadapan dengan salah satu jenis itu. Dalam bahasa tulisan, perbedaan dijelaskan oleh bermacam-macam tanda baca.[17]

1)  Kalimat Pernyataan (Kalimat Deklaratif)
Pernyataan “menyatakan” sesuatu dengan lengkap pada waktu penutur ingin menyampaikan informasi kepada lawan berbahasanya (intonasi menurun; tanda titik).
Misalnya,  Kami sudah ditatar.[18]

2)  Kalimat Pertanyaan (Kalimat Interogatif)
Pertanyaan “bertanya” atau “meminta”. Kalimat kalimat ini dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (perbuatan, jawaban) yang diharapkannya (intonasi meningkat, menurun; tanda tanya). Pertanyaan sering diawali oleh kata tanya: apa, kapan, apakah, bilamana, siapa, yang mana, bagaimana, dimana, mengapa, berapa. Misalnya, Kapan Saudara dating? Bagaimana membuat pesawat ini? Pukul berapa sekarang?[19]



3)  Kalimat Perintah dan Permintaan (Kalimat Imperatif)
Perintah “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat sesuatu (intonasi menurun: tanda titik atau tanda seru atau tanda seru).  Perhatikanlah pemakaian-lah, sudilah, sukalah, jangan. Misalnya, Bukakanlah pintu. Sukalah menjawab surat ini dalam waktu dekat. Jangan ribut.[20]

4)  Kalimat Seruan (Kalimat Ekslamatif)
Seruan “mengungkapkan” perasaan yang kuat atau mendadak. Dalam karangan yang baik kalimat seruan jarang dipakai (intonasi meningkat, menurun: tanda seru atau tanda titik). Misalnya, Bukan main, cantiknya. Panasnya, hari ini![21]

b.  Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
     Menurut strukturnya, kalimat berjenis tunggal (simpleks) dan majemuk (kompleks). Majemuk dapat bersifat setara (koordinatif), tidak setara (subordinatif), ataupun campuran (koordinatif subordinatif). Semuanya dipakai dalam karangan yang baik sesuai dengan pokok pikiran yang diajukan. Gagasan yang tunggal yang dinyatakan dalam kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan kalimat majemuk.[22]

1)  Kalimat Tunggal (Simpleks)
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat, tetapi yang masing-masing dapat berupa bentuk majemuk. Misalnya, Amin (dan saya) menulis (dan membaca), Kami bekerja bakti, Mereka menonton film di tengah kota.[23]

2)  Kalimat Majenuk Setara
Kalimat majemuk setara terdiri atas dua suku kalimat (klausa), atau lebih, yang bebas atau lebih. Tanda koma memisahkan  suku kalimat itu jika subjeknya berbeda, jika kat penghubungnya menunjukkan pertentangan, atau jika suku kalimat itu panjang-panjang. Gagasan yang segi-seginya sama pentingnya (sejumlah kalimat tunggal) dituangkan ke dalam kalimat majemuk setara. Misalnya, Penduduk RT kami rata-rata masih muda, tetapi warga RT Komplek Sarana Indah Permai pada umumnya tua-tua. Kami membaca, dan mereka bermain pingpong.[24]

3)  Kalimat Majemuk Tak Setara (Bertingkat)
Kalimat majemuk tak setara  terdiri atas satu kalimat yang bebas dan suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat jenis itu menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam suku induk, sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab-akibat, tujuan, dan syarat isi dengan aspek gagasan yang lain, yang terungkap dalam suku anak, akan ternyata dari tata susunannya. Misalnya, Karena sudah malam, kami ingin pulang. Para pemain boleh beristirahat jika sudah lelah. Ketika di Jakarta, saya berkenalan dengan rekan dari daerah lain.[25]

4)  Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat jenis ini terdiri dari dua suku bebas atau lebih (sifat kesetaraannya) dan satu suku terikat atau lebih (sifat kesetaraannya). Misalnya, Karena sudah malam, kami berhenti dan semua kawan kami langsung pulang. Kami pulang tetapi semua kawan kami masih tinggal karena belum selesai pekerjaannya.[26]

c.   Jenis Kalimat Menurut Bentuk Gayanya (Retoriknya)
     Bentuk retorik di sini berarti rancangan, gaya, tata susunan, atau arsitektur kalimat yang menentukan efeknyaterhadap pendengar atau pembacanya. Menurut bentuk retorik, kalimat dapat digolongkan jadi kalimat yang melepas (anak-induk), dan kalimat yang berimbang (setara atau campuran).[27]
1)  Kalimat yang Melepas (loose sentence)
Kalimat yang melepas mulai dengan struktur S-P (atau suku induk) yang diikuti unsur tambahan yang sifatnya manasuka. Kalimat itu sudah lengkap walaupun unsur tambahan itu dihilangkan. Misalnya, Saya tidak akan dating jika nanti hujan. Kami belajar di aula.[28]

2)  Kalimat yang Berklimaks (periodic sentence)
Kalimat yang berklimaks unsur tambahan yang diikuti oleh struktur utama (atau suku induk) sehingga membangun ketegangan. Kalimat itu baru selesai dan lengkap dengan adanya kaya yang terakhir. Misalnya, Jika nanti hujan, saya tidak akan dating. Belajar di aula, kami. Di aula, kami belajar. Belajar, kami di aula.[29]

3)  Kalimat yang Berimbang (balanced sentence)
Kalimat yang berimbang ialah kalimat majemuk setara atau campuran yang strukturnya memperlihatkan kesejajaran. Gagasan yang menunjukkan penalaran yang sejalan dituangkan ke dalam bangun kalimat yang bersimetri. Misalnya, Petatar boleh belajar, boleh belajar, boleh bersantai. Mereka memilih buku ini, atau menghafalkan buku ini.[30]

d.  Kalimat Aktif dan Pasif
     Dari segi struktur kalimat selain pola inversi, panjang pendek kalimat, kalimat majemuk dan kalimat sederhana dapat dijadikan variasi kalimat, maka pola kalimat aktif dan pasif pun dapat membuat tulisan menjadi bervariasi. Perhatikan paragraf berikut ini yang menunjukkan adanya variasi yang diciptakan oleh kalimat aktif dan kalimat pasif.[31]
     Ternyata kami tidak berada di Negara yang rakyatnya memusuhi kami. Para penumpang kereta api yang pulang balik Bangkok sering melempari kami dengan buah-buahan dan roti. Begitu makan dilemparkan, kami berhamburan saling berebutan. Tentu saja hal ini mengundang kemarahan para petugas. Kami pun semuanya diancam. Untuk sementara makanan yang dilemparkan itu tergeletak begitu saja di tanah. Melalui seorang petugas Jepang. Akhirnya sebagai tawanan nomor satu saya diizinkan untuk saya yang harus tetap bekerja. Di sini saya mengetahui, bahwa petugas Jepang itu bisa diajak “damai”.[32]
     Kalimat di atas terdiri dari kalimat aktif dan pasif. Masing-masing kalimat ditandai dengan awalan me- dan awalan di-. Terasa bahwa beberapa kalimat aktif dan pasif pada paragraph di atas bekerja sama dengan baik sehingga mengasilkan paragraf yang padu dan lancar.[33]

e.   Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
     Dengan kalimat langsung dapat dibangun variasi kalimat. Kadang – kadang pendapat atau pikiran seseorang akan terasa lebih jelas dan hidupila dinyatakan dalam bentuk kalimat langsung daripada kalimat tidak langsung. Berikut ini dapat dilihat sebuah paragraf yang mengandung kalimat langsung yang ditandai dengan tanda petik.[34]
     Itu hanyalah beberapa dari karya tulisnya yang telah dihasilkannya sejak ia mulai aktif menulis di awal tahun tujuh puluhan. Sepulangnya dari Eropa. Walaupun begitu ia berkata bahwa menulis baginya bukan untuk mencari uang.
“Menulis untuk mencari yang memang ada gunanya, tapi itu bukan wilayah saya. Bagi saya menulis sebagai suatu kebutuhan, sebagai suatu keyakinan. Itulah sebabnya saya biasanya membutuhkan waktu lama dalam menulis.” Burung-burung Manyar diselesaikan dalam waktu tujuh tahun dan Romo Rabadi dalam waktu enam tahun. Sebab katanya, kalau dia belum yakin, buku itu tak akan dilepaskannya. ”Kecuali kalau sudah bias saya pertanggung jawabkan”. Pesan atau warta dalam tulisan yang disampaikan itu, dapat dipertanggungjawabkannya sebagai penulis. (Majalah Intisari).[35]
     Dalam paragraf di atas sumber kalimat langsung adalah hasil dari wawancara atau tanya jawab. Dalam melaporkan hasil wawancara atau ceramah dengan mempergunakan kalimat sendiri, beberapa ucapan yang dianggap penting perlu dinyatakan dalam bentuk kalimat langsung. Biasanya yang dinyatakan dalam kalimat langsung ini adalah ucapan-ucapan yang bersifat ekspresif. Tujuannya tentu saja untuk menghidupkan paragraf tersebut serta memberi variasi agar paragraf  tersebut tidak terasa kaku.[36]

F.     Hubungan Logis Antarkalimat
          Hubungan logis antarkalimat pada dasarnya sama dengan hubungan logis antarklausa walaupun ada hubungan logis tertentu yang hanya terungkap dalam kalimat. Sementara ghubungan logis yang lain hanya terungkap di antara dua kalimat. Hubungan antarkalimat yang sering didapati dalam tulisan adalah sebagai berikut:[37]
a.   Hubungan akibat menyatakan akibat: akibatnya, walhasil, alhasil, karena itu, oleh sebab itu, maka dari itu, sebagai akibatnya;
b.   Hubungan konsekuensi: dengan demikian, maka;
c.   Hubungan sebab yang ditandai kata sambung: alasannya sebabnya;
d.   Hubungan tujuan: untuk itu, untuk keperluan itu, untuk tujuan itu;
e.   Hubungan pertentangan: meskipun demikian atau begitu, walaupun demikian atau begitu, kendati demikian atau begitu, bagaimanapun, akan tetapi dan namun;
f.    Hubungan kebalikan: sebaliknya;
g.   Hubungan waktu: sementara itu, dalam pada itu, pada saat itu, pada saat yang bersamaan, ketika itu; sebelumnya, sebelum itu; sesudahnya, sesudah itu, setelah itu, kamudian;
h.   Hubungan syarat: jika demikian halnya, kalau begitu;
i.    Hubungan urutan: selanjutnya, demikian pula, pertama… kedua… ketiga…, terakhir,… atau Pertama-tama,… Kemudian…, Akhirnya,…;
j.    Hubungan penambahan: selain itu, tambahan lagi pula, di samping itu;
k.   Hubungan penegasan: malahan, bahkan, memang, apalagi, etrlebih lagi, dengan kata lain, singkatnya, singkat kata;
l.    Hubungan penyimpulan: jadi, kesimpulannya, demikian maka;
m. Hubungan pembenaran: sesungguhnya, bahwasanya, sebenarnya.[38]


                      [1] Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Akademka Presindo, 2003), hal. 58
   [2] Tri Adi Sarwoko, Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik, (Yogyakarta: C.V ANDI
OFFSET, 2007), hal. 102
                      [3] Ibid., hal. 102-103
                      [4] Tri Adi Sarwoko, Inilah Bahasa…, hal. 103
                      [5] Ibid., hal. 103
[6] Ibid., hal. 103-104
[7] Ibid., hal. 104

                      [8] Tri Adi Sarwoko, Inilah Bahasa…, hal. 104-105
[9] Ibid., hal. 105
[10] Ibid., hal. 105-106
                      11 Tri Adi Sarwoko, Inilah Bahasa…, hal. 106
                      12 Ibid., hal. 106
                      13 Sabarti akhadiah, Maidar G. Arsjad dan Sakura H. Ridwan, Pembinaan Kemampuan Membaca Bahasa Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 1988), hal. 132

                     

                      [14] Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa…, hal. 64
                      [15] Ibid., hal 62
                     

                      [16] Dr. Alek dan Prof Dr. H. Achmad H. P, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Groud, 2010), hal. 244
                      [17] Ibid., hal. 244
                      [18] Ibid., hal. 244
                      [19] Ibid., hal. 244

                      [20] Dr. Alek dan Prof. Dr. H. Achmad H. P, Bahasa Indonesia…, hal 245
                      [21] Ibid., hal. 245
      [22] Ibid., hal. 245
      [23] Ibid., hal. 246
[24] Dr. H. Achmad H. P, Dr. Alek dan Prof Bahasa Indonesia…, hal. 246
                      [25] Ibid., hal. 246
      [26] Ibid., hal. 247
                      [27] Ibid., hal. 247
[28] Dr. H. Achmad H. P, Dr. Alek dan Prof Bahasa Indonesia…, hal. 247
                      [29] Ibid., hal. 247-248
                      [30] Ibid., hal. 248
                      [31] Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsjad dan Sakura H. Ridwan, Pembinaan Kemampuan…, hal. 134
                      [32] Sabarti akhadiah, Maidar G. Arsjad dan Sakura H. Ridwan, Pembinaan Kemampuan…, hal. 134
                      [33] Ibid., hal. 134
                      [34] Ibid., hal. 134
                      [35] Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsjad dan Sakura H. Ridwan, Pembinaan Kemampuan…, hal. 134
                      [36] Ibid., hal. 134-135     
                      [37] Indrawati, Bahasa dan Sastra Indonesia, (Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2009), hal. 25
                      [38] Indrawati, Bahasa dan…, hal. 25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Misi Mustahil tapi Sangat Berat Buat Madrid dan Barca

Belajar Ikhlas di dalam Sabarmu

TENTANG PMR